Isu biaya pernikahan sering kali menjadi sumber stres bagi calon pengantin dan keluarga. Tekanan tradisi, ekspektasi sosial, hingga keterbatasan budget bisa membuat proses menuju akad terasa berat. Padahal, Islam hadir sebagai agama yang memudahkan, bukan memberatkan.
Dalam Islam, biaya nikah atau walimah secara hukum asal dibebankan kepada mempelai laki-laki, namun pihak perempuan diperbolehkan membantu sepanjang dilakukan secara sukarela, jelas, dan tidak menimbulkan mudarat.
Prinsip inilah yang sering luput dipahami secara utuh di tengah praktik pernikahan modern.
Di artikel ini, kita akan membahasnya secara seimbang dari sisi dalil, hukum fikih, hingga realita budaya di Indonesia.
Hukum Dasar: Mahar vs. Biaya Walimah
Dalam Islam, penting untuk membedakan antara mahar dan walimatul ‘urs (resepsi) karena keduanya memiliki hukum dan konsekuensi yang berbeda.
1. Mahar: Hak Mutlak Istri
Mahar adalah pemberian wajib dari suami kepada istri sebagai bentuk kesungguhan dan penghormatan. Allah SWT berfirman:
“Berikanlah mahar kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan.”
(QS. An-Nisa: 4)
Beberapa poin penting tentang mahar:
- Wajib diberikan oleh mempelai laki-laki
- Menjadi hak penuh istri
- Tidak boleh diminta kembali
- Nilainya bebas, sesuai kesepakatan dan kemampuan
2. Walimah: Bentuk Syiar & Rasa Syukur
Berbeda dengan mahar, walimah hukumnya sunnah muakkad (sunnah yang sangat dianjurkan). Tujuannya adalah:
- Mengumumkan pernikahan
- Menyebarkan kebahagiaan
- Menghindari prasangka (nikah siri)
Nabi ﷺ bersabda:
“Adakanlah walimah meskipun hanya dengan seekor kambing.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Maknanya jelas: walimah dianjurkan sesuai kemampuan, bukan sesuai gengsi.
Tabel Perbedaan Tanggung Jawab dalam Pernikahan Islam
| Komponen | Hukum | Penanggung Jawab |
|---|---|---|
| Mahar | Wajib | Mempelai Laki-laki |
| Nafkah | Wajib | Mempelai Laki-laki |
| Walimah | Sunnah Muakkad | Mempelai Laki-laki |
Dari tabel ini terlihat bahwa kewajiban finansial inti ada pada laki-laki, sementara walimah bersifat fleksibel.
Siapa yang Wajib Menanggung Biaya Walimah?
Secara syariat, tanggung jawab utama biaya walimah berada pada mempelai pria. Ini selaras dengan peran suami sebagai pemimpin dan penanggung nafkah keluarga.
Namun, Islam juga memberikan rambu-rambu penting:
- Tidak memaksakan diri
- Tidak berutang demi pesta
- Tidak berlebih-lebihan (israf)
Prinsipnya sederhana:
Akad dan mahar adalah fondasi wajib, walimah adalah pelengkap.
Dalam praktiknya, walimah bisa sangat sederhana:
- Jamuan makan seadanya
- Undangan terbatas
- Dilaksanakan di rumah atau masjid
Menurut kami, kesalahan terbesar dalam pernikahan modern adalah membalik prioritas: resepsi besar tapi akad penuh tekanan finansial. Ini jelas bertentangan dengan spirit Islam.
Pertanyaan ini sangat relevan dengan realita Indonesia.
Apakah pihak perempuan boleh membantu biaya?
Jawabannya: boleh, dengan catatan:
- Dilakukan secara sukarela
- Diniatkan sebagai hibah, hadiah, atau sedekah
- Tidak dijadikan syarat pernikahan
- Tidak menimbulkan tuntutan di kemudian hari
Islam sangat menghargai tolong-menolong:
“Tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa.”
(QS. Al-Maidah: 2)
Yang Perlu Dihindari
- Patungan yang dipaksakan
- Biaya yang berubah jadi utang moral
- Tekanan sosial yang membuat salah satu pihak tersakiti
Akad kesepakatan sejak awal sangat penting, terutama terkait:
- Siapa menanggung apa
- Batas kemampuan
- Bentuk bantuan keluarga
Realita Budaya Indonesia: Uang Panai & Sumbangan Keluarga
Di beberapa daerah (Bugis, Minang, dll), dikenal tradisi uang panai atau kontribusi keluarga besar.
Islam memandang ini secara fleksibel:
- Boleh selama tidak melanggar syariat
- Tidak boleh memberatkan
- Tidak boleh menghalangi pernikahan
Umar bin Khattab RA pernah mengingatkan bahwa mahar terbaik adalah yang paling mudah. Maka, tradisi seharusnya:
- Mendukung pernikahan
- Bukan menjadi penghalang
Solusi Menghadapi Tekanan Tradisi dan Budget Terbatas
Berikut beberapa tips praktis dan realistis:
1. Lakukan Musyawarah Sejak Awal
- Bicarakan budget secara terbuka
- Libatkan keluarga inti
- Samakan visi, bukan adu gengsi
2. Tentukan Skala Prioritas
- Akad nikah
- Mahar
- Nafkah awal
- Resepsi besar (opsional)
3. Sederhana Tapi Bermakna
- Undangan terbatas
- Katering secukupnya
- Fokus pada keberkahan, bukan pameran
Menurut kami, pernikahan yang tenang sejak awal adalah investasi jangka panjang bagi rumah tangga.
Pernikahan adalah Ibadah, Bukan Ajang Pembuktian
Islam tidak menilai pernikahan dari megahnya pesta, tapi dari:
- Kejelasan akad
- Keikhlasan mahar
- Kesiapan tanggung jawab
Jika biaya menjadi sumber konflik sejak awal, mungkin yang perlu dikoreksi bukan budget-nya, tapi cara pandang kita terhadap makna pernikahan itu sendiri.
Pernikahan tidak harus mahal untuk terasa sakral dan berkesan. Dengan perencanaan yang tepat, banyak pos biaya bisa dihemat tanpa mengurangi makna ibadahnya.
Kami merekomendasikan rencananikah.net sebagai vendor undangan digital terbaik bagi pasangan yang ingin menikah sederhana, efisien, dan tetap profesional.
Semoga penjelasan ini bisa menjadi pegangan yang menenangkan bagi pasangan yang sedang berjuang menuju halal.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Secara hukum asal, mempelai laki-laki. Namun, pihak perempuan atau keluarga boleh membantu sebagai bentuk hibah jika disepakati bersama.
Boleh, selama tidak menjadi kewajiban yang dipaksakan dan tidak dijadikan syarat pernikahan.
Walimah bisa disesuaikan dengan kemampuan, bahkan sangat sederhana. Tidak ada kewajiban pesta besar dalam Islam.
Tidak, selama tidak menghilangkan kewajiban pokok suami dan dilakukan dengan ridha kedua belah pihak

