Banyak calon pengantin yang sudah hafal urutan akad dan resepsi, tapi masih bingung soal sungkeman. Kapan waktunya, siapa saja yang harus disungkemi, dan apa yang sebaiknya diucapkan sering baru dipikirkan mendekati hari H.
Sungkeman adat Jawa sebenarnya prosesi yang sederhana secara teknis, tapi maknanya berat. Di artikel ini, kamu akan merangkum pengertian, filosofi, urutan pelaksanaan, siapa saja yang disungkemi, sampai contoh kalimat yang bisa jadi acuan.
Apa Itu Sungkeman dalam Adat Jawa?
Sungkeman adalah prosesi mempelai bersimpuh di hadapan orang tua dan sesepuh untuk memohon doa restu serta memohon maaf sebelum memulai kehidupan berumah tangga. Kata “sungkem” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti sikap hormat dan bakti kepada orang yang lebih tua.
Dalam praktiknya, sungkeman menjadi cara mempelai menunjukkan rasa terima kasih atas didikan orang tua selama ini. Prosesi ini juga menandai izin resmi dari orang tua bagi anaknya untuk menjalani hidup baru sebagai suami istri.
Makna dan Filosofi Sungkeman Adat Jawa
Sungkeman mengandung nilai andhap asor, yaitu sikap rendah hati yang dijunjung tinggi dalam budaya Jawa. Lewat gestur bersimpuh dan mencium tangan, mempelai menunjukkan bahwa pencapaian sebesar apa pun tidak membuat mereka lupa asal dan jasa orang tua.
Ada empat nilai utama yang biasanya melekat pada prosesi ini.
- Ungkapan hormat dan terima kasih kepada orang tua.
- Permohonan doa restu untuk kehidupan rumah tangga yang baru dimulai.
- Kerendahan hati yang ditunjukkan lewat sikap tubuh dan tutur kata halus.
- Mempererat ikatan antar keluarga besar yang baru saja bersatu lewat pernikahan.
Kapan Sungkeman Dilakukan dalam Rangkaian Pernikahan Adat Jawa
Sungkeman umumnya menjadi prosesi penutup, dilakukan setelah akad nikah dan panggih atau temu manten, sebelum maupun di sela acara resepsi. Posisinya sebagai penutup ini menegaskan fungsi sungkeman sebagai peralihan resmi menuju kehidupan berkeluarga.
Dalam susunan acara lengkap, sungkeman biasanya menyusul rangkaian prosesi lain seperti siraman, midodareni, akad, hingga temu manten. Kalau ingin tahu urutan lengkapnya dari awal, baca juga panduan susunan acara pernikahan adat Jawa.
Karena berdekatan dengan prosesi temu manten, sungkeman sering dianggap satu rangkaian dengan panggih pengantin. Detail soal panggih dan temu manten bisa dicek di artikel prosesi temu manten.
Tata Cara dan Urutan Sungkeman Adat Jawa
Urutan dasarnya adalah mempelai duduk bersimpuh di atas bantal atau sajadah, mencium tangan orang tua, mengucapkan permohonan maaf dan restu, lalu dipeluk sebagai tanda restu diberikan. Urutan ini dilakukan bergantian untuk setiap orang tua yang disungkemi.
Berikut tahapan yang lazim diikuti pada prosesi sungkeman pernikahan.
| Tahapan | Yang Dilakukan |
|---|---|
| 1. Persiapan posisi | Orang tua duduk di kursi, mempelai bersimpuh di bawahnya di atas bantal atau sajadah |
| 2. Sungkem kepada ibu | Mempelai mencium tangan dan lutut ibu, mengucapkan permohonan maaf serta terima kasih |
| 3. Sungkem kepada ayah | Dilanjutkan ke ayah dengan gestur serupa |
| 4. Permohonan restu | Orang tua membalas dengan doa dan pelukan sebagai tanda restu |
| 5. Sungkem ke sesepuh lain | Jika ada, dilanjutkan ke kakek, nenek, atau sesepuh keluarga yang dituakan |

Urutan siapa didahulukan bisa berbeda tergantung kesepakatan keluarga. Ada yang mendahulukan orang tua mempelai wanita, ada juga yang menyesuaikan urutan tempat duduk saat resepsi berlangsung.
Siapa Saja yang Disungkemi
Yang disungkemi umumnya adalah orang tua kandung kedua mempelai, baik dari pihak pria maupun wanita. Dari sana, sungkeman bisa dilanjutkan ke kakek, nenek, dan sesepuh keluarga yang dianggap dituakan.
Kriteria “sesepuh” ini biasanya ditentukan oleh keluarga masing-masing, bukan aturan baku yang sama di semua daerah. Umumnya yang dimaksud adalah anggota keluarga inti yang usianya jauh lebih tua dan punya peran penting dalam membesarkan mempelai, seperti wali yang mengasuh sejak kecil.
Kalau salah satu orang tua sudah meninggal, sungkeman tetap bisa dilakukan simbolis lewat foto atau diwakilkan kepada wali. Keputusan ini sepenuhnya kembali ke kenyamanan keluarga yang menjalani.
Perlengkapan dan Persiapan Sungkeman
Perlengkapan dasar yang dibutuhkan adalah bantal atau sajadah untuk tempat bersimpuh, serta kursi yang layak bagi orang tua dan sesepuh yang disungkemi. Idealnya posisi duduk orang tua sedikit lebih tinggi dari mempelai untuk menegaskan makna penghormatan.
Selain itu, pastikan lokasi sungkeman cukup luas dan mudah diakses kamera, karena momen ini biasanya jadi salah satu yang paling banyak diabadikan tamu maupun fotografer. Pakaian yang dikenakan menyesuaikan busana adat yang sudah dipakai sejak akad atau panggih, tidak perlu ganti khusus.
Contoh Kalimat dan Ucapan Sungkeman Adat Jawa
Ucapan sungkeman biasanya disampaikan dalam bahasa Jawa krama inggil, berisi permohonan maaf dan ucapan terima kasih kepada orang tua.
Berikut contoh yang bisa dijadikan acuan, untuk redaksi persis sesuai kebiasaan daerah masing-masing.
| Bahasa Jawa | Terjemahan |
|---|---|
| “Kulo ngaturaken sembah pangabekti dhateng panjenengan, ugi nyuwun pangapunten sedaya kalepatan kulo.” | Saya mengucapkan hormat bakti kepada Bapak/Ibu, sekaligus memohon maaf atas segala kesalahan saya. |
| “Mugi panjenengan tansah paring pangestu kagem gesang kulo lan garwo ing wekdal ngajeng.” | Semoga Bapak/Ibu senantiasa memberi restu untuk kehidupan saya dan pasangan kedepannya. |
Kalau kurang lancar berbahasa Jawa halus, tidak masalah menyampaikan dengan bahasa Indonesia yang tulus. Inti dari sungkeman ada pada ketulusan, bukan kefasihan bahasa.
Perbedaan Sungkeman Gaya Yogyakarta, Solo, dan Jawa Timur
Secara inti, tata cara sungkeman relatif sama di semua daerah Jawa, tapi nuansa dan kelengkapan prosesinya bisa berbeda. Perbedaan ini biasanya mengikuti karakter besar pernikahan adat di masing-masing daerah.
| Daerah | Karakter Sungkeman |
|---|---|
| Yogyakarta | Cenderung lebih formal dan megah, sejalan dengan nuansa keraton yang kental di seluruh rangkaian acara. |
| Solo | Lebih sederhana dan halus, sejalan dengan filosofi keanggunan dan kelembutan khas adat Solo. |
| Jawa Timur | Umumnya lebih ringkas, sering digabung langsung dengan prosesi resepsi tanpa tahapan tambahan. |
Apa pun gayanya, esensi sungkeman tetap sama, yaitu permohonan restu dan ungkapan bakti kepada orang tua. Perbedaan di atas lebih pada nuansa pelaksanaan, bukan makna intinya.
FAQ Seputar Sungkeman Adat Jawa
Apa itu sungkeman dalam adat Jawa?
Sungkeman adalah prosesi mempelai bersimpuh di hadapan orang tua dan sesepuh untuk memohon doa restu serta memohon maaf sebelum memulai kehidupan berumah tangga.
Kapan sungkeman dilakukan dalam rangkaian pernikahan adat Jawa?
Sungkeman umumnya dilakukan sebagai prosesi penutup, setelah akad nikah dan panggih temu manten, sebelum atau di sela acara resepsi.
Siapa saja yang disungkemi saat pernikahan adat Jawa?
Yang disungkemi umumnya adalah orang tua kandung kedua mempelai, kemudian bisa dilanjutkan ke kakek, nenek, dan sesepuh keluarga yang dituakan.
Apa perlengkapan yang dibutuhkan untuk prosesi sungkeman?
Perlengkapan dasar meliputi bantal atau sajadah untuk bersimpuh, serta tempat duduk yang layak bagi orang tua dan sesepuh yang disungkemi.
Penutup
Sungkeman adat Jawa pada akhirnya bukan sekadar rangkaian gestur, tapi cara mempelai menutup babak lama dan membuka babak baru dengan restu orang tua. Memahami urutan, siapa yang disungkemi, dan menyiapkan kalimat yang tulus akan membuat momen ini terasa lebih khidmat.
Kalau kamu sedang menyusun rangkaian acara lengkap, cek juga panduan biaya pernikahan adat Jawa agar persiapan lebih matang. Untuk urusan undangan adat Jawa, kamu bisa menggunakan layanan rencananikah.net.

