Langsung ke konten utama
Rencananikah.net

7 menit baca

Paes Jawa: Jenis, Makna, dan Perbedaan Paes Jogja vs Solo Putri

  • Ditulis oleh Cecep Suparman
  • Terbit
Paes Jawa pada pengantin putri adat Jawa

Poin Penting

  • Paes adalah lekukan hitam di dahi pengantin putri yang dibuat dengan *pidih* atau *eyeliner*.
  • Paes Jawa punya dua gaya besar, Yogyakarta dan Surakarta (Solo), masing-masing dengan beberapa jenis.
  • Beda yang paling terlihat: dahi runcing berprada emas pada gaya Jogja, membulat tanpa *prada* pada gaya Solo.
  • Tiap bagian paes (*penunggul*, *pengapit*, *penitis*, *godheg*, *citak*) membawa doa untuk rumah tangga.
  • Pilih gaya paes sesuai adat keluarga, lalu bicarakan detail modifikasinya dengan perias sejak awal.

Paes Jawa adalah riasan khas di dahi pengantin putri yang langsung dikenali dari lekuk hitamnya. Namun begitu mulai menyiapkan pernikahan adat Jawa, banyak keluarga bingung memilih antara gaya Jogja dan Solo.

Keduanya terlihat mirip, padahal bentuk dahi, aksesori, dan maknanya punya perbedaan yang jelas. Karena itu, perbedaan paes Jogja dan Solo perlu dipahami sebelum bertemu perias.

Pada artikel kali ini, kami akan membahas arti paes, jenis paes Jogja dan Solo, tabel perbandingannya, makna tiap bagian, dan cara memilihnya.

Apa Itu Paes dalam Pernikahan Adat Jawa?

Paes adalah lekukan hitam di dahi pengantin putri yang membentang hingga batas anak rambut. Pada pakemnya, lekukan ini dibuat dengan pidih, bahan berwarna hitam.

Kini banyak perias memakai eyeliner sebagai pengganti pidih karena dinilai lebih aman untuk kulit. Pola paesnya tetap dibuat mengikuti gaya yang dipilih.

Setiap lekuk paes membawa doa untuk kehidupan rumah tangga. Maknanya diuraikan di bagian makna filosofis di bawah.

Ragam Paes Jawa: Gaya Yogyakarta dan Surakarta

Paes Jawa terbagi menjadi dua gaya besar, yaitu Yogyakarta dan Surakarta (Solo). Perbedaan keduanya berakar pada sejarah.

Setelah Perjanjian Giyanti 1755, pakem tata rias pengantin ala Mataram diwariskan ke Yogyakarta. Solo kemudian mengembangkan gayanya sendiri berdasarkan pakem Mataram, dengan beberapa modifikasi.

Paes ageng gaya Jogja sempat dibatasi untuk keluarga keraton. Pemakaian yang lebih luas baru diizinkan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sekitar tahun 1960-an hingga 1970-an.

Sumber populer menyebut paes Jogja punya enam jenis. Jumlah jenis paes Solo dijelaskan berbeda-beda, antara lain Solo Putri, Solo Basahan, dan Solo Takwo.

Paes Jogja: Jenis dan Kapan Dipakai

Paes Jogja umumnya dibagi menjadi enam jenis, mulai dari Paes Ageng yang paling megah hingga Kasatriyan Ageng yang paling sederhana.

Jenis Ciri singkat Konteks pemakaian
Paes Ageng Dasar hitam dengan hiasan emas mengikuti pola dahi Awalnya terbatas untuk keluarga keraton
Paes Ageng Jangan Menir Varian paes ageng Dipakai saat boyongan, ketika pengantin putri pindah ke rumah pengantin pria
Paes Ageng Kanigaran Dikenal lewat dodot dan kemben yang dilapisi kain cinde Rangkaian pernikahan gaya Jogja
Jogja Putri Kebaya beludru bersulam, batik prada, sanggul tekuk dengan mentul besar Ngunduh mantu atau pasaran, sekitar lima hari setelah akad (menurut detikJogja)
Kasatriyan Ageng Paling sederhana: kebaya renda, batik prada, dan melati Dikenal sebagai gaya Jogja kontemporer
Pura Pakualaman Mirip gaya Jogja dengan sentuhan Pakualaman pada kain Variasi dari lingkungan Pura Pakualaman

Penggunaan prada pada tiap jenis dijelaskan berbeda antar sumber. Tanyakan detailnya langsung ke perias yang akan merias kamu.

Paes Jogja Putri: Ciri, Busana, dan Maknanya

Paes Jogja putri adalah salah satu corak paes gaya Yogyakarta. Menurut detikJogja, corak ini dipakai saat ngunduh mantu atau pasaran sekitar lima hari setelah akad.

Riasan dahinya terdiri atas penunggul di tengah, pengapit di kanan dan kiri, penitis, serta godheg di sisi telinga. Pelengkapnya alis menjangan ranggah, citak, jahitan mata, dan cundhuk mentul.

Cundhuk mentul pada gaya Jogja berjumlah ganjil, tidak lebih dari lima, dan menghadap ke belakang. Sanggulnya berupa cepol, dengan rambut depan disisir ke belakang tanpa di-tease.

Pada versi pakem menurut penelitian Universitas Negeri Yogyakarta, busananya kebaya panjang beludru hitam bersulam emas, dengan kain batik motif sidoasih, sidomukti, atau simbar lintang. Paes pakemnya berbentuk pidih hitam tanpa prada emas, meski sebagian sumber populer menyebut Jogja Putri memakai prada.

Versi modifikasi memakai kebaya modern. Warnanya hitam atau putih untuk akad nikah dan hitam untuk resepsi, atau disesuaikan dengan dekorasi.

Paes Solo: Jenis Utama

Dua jenis paes Solo yang paling dikenal adalah Solo Putri dan Solo Basahan. Keduanya dibedakan terutama oleh warna pidih.

Solo Putri memakai pidih hitam, sedangkan Solo Basahan memakai pidih hijau dan dikenal dengan busana dodotan. Solo Takwo juga disebut di salah satu sumber, tetapi belum ada penjelasan rincinya di sumber yang dipakai artikel ini.

Paes Solo Putri: Ciri, Busana, dan Maknanya

Paes Solo putri memakai pidih hitam dengan bentuk dahi yang membulat dan tanpa prada emas. Bagian tengah dahinya disebut gajahan.

Unsurnya terdiri atas gajahan, pengapit, penitis, dan godheg. Citak boleh dipakai atau tidak, tergantung pilihan perias.

Aksesori depannya berupa sirkam setengah lingkaran yang diapit centung setengah lingkaran. Cundhuk mentul berjumlah tujuh atau sembilan dan menghadap ke depan.

Rangkaian melati juga ikut menandai gaya ini. Ada tibo dodo, yaitu melati persegi yang menjuntai ke dada kanan, dan pengasih, melati pendek di sisi kiri bawah yang tidak melewati leher.

Sanggul Solo tampak lebih lebar karena rambut depan di-tease sebelum disisir ke belakang.

Perbedaan Paes Jogja dan Solo

Perbedaan paling mudah terlihat ada pada bentuk dahi, penggunaan prada, dan aksesori kepala. Unsur dasarnya sama, yaitu penunggul atau gajahan, pengapit, penitis, dan godheg.

Elemen Paes Jogja Paes Solo
Bentuk dahi Runcing Membulat
Prada atau pidih Prada emas di tepi dan tengah, terutama pada paes ageng Tanpa prada, dilukis dengan pidih (hitam untuk Putri, hijau untuk Basahan)
Alis Alis menjangan ranggah Menjangan ranggah boleh dipakai atau tidak
Citak Dipakai Boleh dipakai atau tidak
Jahitan mata Ada, garis dari mata ke pelipis Tidak ada, riasan mata lebih sederhana
Cundhuk mentul Ganjil, maksimal lima, menghadap ke belakang Tujuh atau sembilan, menghadap ke depan
Aksesori depan Gunungan diapit centung berkaki melengkung Sirkam setengah lingkaran diapit centung setengah lingkaran
Sanggul Cepol, rambut depan tanpa di-tease Lebih lebar, rambut depan di-tease
Busana khas Paes Ageng dan dodot Kanigaran Solo Basahan dengan dodotan

perbedaan paes Jogja dan Solo pada dahi pengantin putri, paes Jogja runcing berprada emas dan paes Solo membulat

Bentuk godheg memang ada di kedua gaya, tetapi penjelasannya berbeda antar sumber. Untuk detail bentuknya, lihat langsung contoh hasil rias dari perias pilihanmu.

Makna Filosofis Tiap Bagian Paes

Setiap bagian paes dimaknai sebagai doa untuk kehidupan rumah tangga. Tafsirnya bisa sedikit berbeda antar daerah dan perias.

bagian-bagian paes Jawa pada dahi pengantin: penunggul, pengapit, penitis, godheg, dan citak

Penunggul atau Gajahan

Ini lekukan terbesar di tengah dahi. Maknanya harapan agar derajat dan kehormatan perempuan terangkat setelah menikah.

Pengapit

Pengapit berada di kanan dan kiri penunggul. Ia diibaratkan pengendali yang menjaga penunggul tetap di tengah, supaya tujuan pernikahan tetap lurus meski ada rintangan.

Penitis

Penitis berada di samping pengapit, dengan ujung mengarah ke ujung hidung. Maknanya, segala hal dalam rumah tangga, termasuk keuangan, perlu tujuan yang jelas dan dijalankan efektif.

Godheg

Godheg ada di sisi telinga. Ia pengingat untuk introspeksi dan tidak tergesa mengambil keputusan, sekaligus doa agar pengantin dikaruniai keturunan.

Penelitian pada paes Solo Putri menafsirkannya sebagai doa keselamatan, keharmonisan, dan ketenangan rumah tangga.

Citak

Citak berbentuk belah ketupat atau berlian di dahi, dibuat dari daun sirih yang digunting lalu ditempel. Ia melambangkan mata Dewa Siwa sebagai dewa pengetahuan, dengan harapan istri cerdas, berilmu, dan berakhlak baik.

Cara Memilih Paes untuk Pernikahanmu

Pilih paes sesuai gaya adat yang dipakai keluarga, lalu rundingkan detailnya dengan perias. Beberapa langkah berikut membantu keputusannya lebih mantap.

  1. Tanyakan ke orang tua atau sesepuh, keluarga memakai gaya Jogja atau Solo.
  2. Pilih perias yang menguasai pakem gaya itu, dan minta contoh hasil rias dengan paes yang sama.
  3. Bicarakan modifikasi sejak awal, misalnya pidih atau eyeliner, dan memakai prada atau tidak.
  4. Untuk pengantin berhijab, bahas penataan kerudung lebih dulu supaya paes tetap terlihat.
  5. Cocokkan pilihan paes dengan busana dan susunan acara.

Paes hanya satu pos dalam anggaran. Gambaran lengkapnya ada di artikel biaya pernikahan adat Jawa.

Paes juga tampil bersama rangkaian acara lain, seperti temu manten dan hiasan kembar mayang.

Penutup

Paes Jawa punya dua gaya besar. Gaya Jogja ditandai dahi runcing dan prada emas, sedangkan gaya Solo membulat dengan pidih berwarna.

Pahami dulu arti, jenis, dan perbedaan paes Jogja dan Solo, lalu pilih yang sesuai adat keluargamu bersama perias.

Kalau sedang menyiapkan undangan untuk pernikahan adat Jawa, rencananikah.net menyediakan undangan pernikahan adat Jawa dalam bentuk digital.

FAQ Seputar Paes Jawa

Apa itu paes dalam pernikahan adat Jawa?

Paes adalah lekukan hitam di dahi pengantin putri hingga batas anak rambut. Paes dibuat dengan pidih atau kini sering memakai eyeliner, dan menjadi ciri riasan pengantin adat Jawa.

Apa perbedaan paes Jogja dan Solo?

Perbedaan paling terlihat ada pada bentuk dahi (runcing pada Jogja, membulat pada Solo), penggunaan prada emas pada paes Jogja dibanding pidih berwarna pada paes Solo, serta aksesori seperti cundhuk mentul.

Apa itu paes Jogja putri?

Paes Jogja putri adalah salah satu corak paes gaya Yogyakarta. Menurut detikJogja, corak ini dipakai saat ngunduh mantu atau pasaran sekitar lima hari setelah akad.

Apa itu paes Solo putri?

Paes Solo putri adalah corak paes gaya Surakarta yang memakai pidih hitam, dengan bentuk dahi gajahan yang membulat dan tanpa prada emas.

Apakah pengantin berhijab bisa memakai paes Jawa?

Bisa. Paes dapat disesuaikan dengan penataan hijab sehingga unsur adatnya tetap terlihat, dan sebaiknya dibicarakan dengan perias sejak awal.
Sumber dan Referensi (4)
  1. Perbedaan Tata Rias Pengantin Jawa Jogja dan Solo (buka di tab baru)Mojok, diakses 19 Oktober 2026
  2. Perkembangan Tata Rias Paes Pengantin Jogja Putri (Clarita Aprilliani, 2023) (buka di tab baru)Home Economics Journal, Universitas Negeri Yogyakarta, diakses 19 Oktober 2026
  3. Tata Rias Pengantin Putri Jogja: Ini Corak Paes dan Filosofinya (buka di tab baru)detikJogja, diakses 19 Oktober 2026
  4. Perbandingan Pola Paes Pengantin Solo Putri Menggunakan Pensil Alis dan Eyeliner Spidol pada Kulit Berminyak (Novitasari dkk., 2026) (buka di tab baru)Jurnal Tata Rias, Universitas Negeri Surabaya, diakses 19 Oktober 2026
WhatsApp (buka tab baru)

Cecep Suparman

Cecep Suparman, pendiri Rencananikah.net. Sudah sepuluh tahun mengerjakan website dan SEO, sekarang fokus membantu pasangan menyiapkan undangan pernikahan digital. Tulisan di blog ini disusun dari riset soal adat, biaya, dan persiapan nikah di berbagai daerah di Indonesia.

Lagi Siapin Undangan Pernikahan?

Website undangan dengan domain sendiri, selesai 1-3 hari kerja setelah data lengkap, dan garansi uang kembali. Konsultasinya gratis lewat WhatsApp.

Artikel Terkait