Paes Jawa adalah riasan khas di dahi pengantin putri yang langsung dikenali dari lekuk hitamnya. Namun begitu mulai menyiapkan pernikahan adat Jawa, banyak keluarga bingung memilih antara gaya Jogja dan Solo.
Keduanya terlihat mirip, padahal bentuk dahi, aksesori, dan maknanya punya perbedaan yang jelas. Karena itu, perbedaan paes Jogja dan Solo perlu dipahami sebelum bertemu perias.
Pada artikel kali ini, kami akan membahas arti paes, jenis paes Jogja dan Solo, tabel perbandingannya, makna tiap bagian, dan cara memilihnya.
Apa Itu Paes dalam Pernikahan Adat Jawa?
Paes adalah lekukan hitam di dahi pengantin putri yang membentang hingga batas anak rambut. Pada pakemnya, lekukan ini dibuat dengan pidih, bahan berwarna hitam.
Kini banyak perias memakai eyeliner sebagai pengganti pidih karena dinilai lebih aman untuk kulit. Pola paesnya tetap dibuat mengikuti gaya yang dipilih.
Setiap lekuk paes membawa doa untuk kehidupan rumah tangga. Maknanya diuraikan di bagian makna filosofis di bawah.
Ragam Paes Jawa: Gaya Yogyakarta dan Surakarta
Paes Jawa terbagi menjadi dua gaya besar, yaitu Yogyakarta dan Surakarta (Solo). Perbedaan keduanya berakar pada sejarah.
Setelah Perjanjian Giyanti 1755, pakem tata rias pengantin ala Mataram diwariskan ke Yogyakarta. Solo kemudian mengembangkan gayanya sendiri berdasarkan pakem Mataram, dengan beberapa modifikasi.
Paes ageng gaya Jogja sempat dibatasi untuk keluarga keraton. Pemakaian yang lebih luas baru diizinkan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sekitar tahun 1960-an hingga 1970-an.
Sumber populer menyebut paes Jogja punya enam jenis. Jumlah jenis paes Solo dijelaskan berbeda-beda, antara lain Solo Putri, Solo Basahan, dan Solo Takwo.
Paes Jogja: Jenis dan Kapan Dipakai
Paes Jogja umumnya dibagi menjadi enam jenis, mulai dari Paes Ageng yang paling megah hingga Kasatriyan Ageng yang paling sederhana.
| Jenis | Ciri singkat | Konteks pemakaian |
|---|---|---|
| Paes Ageng | Dasar hitam dengan hiasan emas mengikuti pola dahi | Awalnya terbatas untuk keluarga keraton |
| Paes Ageng Jangan Menir | Varian paes ageng | Dipakai saat boyongan, ketika pengantin putri pindah ke rumah pengantin pria |
| Paes Ageng Kanigaran | Dikenal lewat dodot dan kemben yang dilapisi kain cinde | Rangkaian pernikahan gaya Jogja |
| Jogja Putri | Kebaya beludru bersulam, batik prada, sanggul tekuk dengan mentul besar | Ngunduh mantu atau pasaran, sekitar lima hari setelah akad (menurut detikJogja) |
| Kasatriyan Ageng | Paling sederhana: kebaya renda, batik prada, dan melati | Dikenal sebagai gaya Jogja kontemporer |
| Pura Pakualaman | Mirip gaya Jogja dengan sentuhan Pakualaman pada kain | Variasi dari lingkungan Pura Pakualaman |
Penggunaan prada pada tiap jenis dijelaskan berbeda antar sumber. Tanyakan detailnya langsung ke perias yang akan merias kamu.
Paes Jogja Putri: Ciri, Busana, dan Maknanya
Paes Jogja putri adalah salah satu corak paes gaya Yogyakarta. Menurut detikJogja, corak ini dipakai saat ngunduh mantu atau pasaran sekitar lima hari setelah akad.
Riasan dahinya terdiri atas penunggul di tengah, pengapit di kanan dan kiri, penitis, serta godheg di sisi telinga. Pelengkapnya alis menjangan ranggah, citak, jahitan mata, dan cundhuk mentul.
Cundhuk mentul pada gaya Jogja berjumlah ganjil, tidak lebih dari lima, dan menghadap ke belakang. Sanggulnya berupa cepol, dengan rambut depan disisir ke belakang tanpa di-tease.
Pada versi pakem menurut penelitian Universitas Negeri Yogyakarta, busananya kebaya panjang beludru hitam bersulam emas, dengan kain batik motif sidoasih, sidomukti, atau simbar lintang. Paes pakemnya berbentuk pidih hitam tanpa prada emas, meski sebagian sumber populer menyebut Jogja Putri memakai prada.
Versi modifikasi memakai kebaya modern. Warnanya hitam atau putih untuk akad nikah dan hitam untuk resepsi, atau disesuaikan dengan dekorasi.
Paes Solo: Jenis Utama
Dua jenis paes Solo yang paling dikenal adalah Solo Putri dan Solo Basahan. Keduanya dibedakan terutama oleh warna pidih.
Solo Putri memakai pidih hitam, sedangkan Solo Basahan memakai pidih hijau dan dikenal dengan busana dodotan. Solo Takwo juga disebut di salah satu sumber, tetapi belum ada penjelasan rincinya di sumber yang dipakai artikel ini.
Paes Solo Putri: Ciri, Busana, dan Maknanya
Paes Solo putri memakai pidih hitam dengan bentuk dahi yang membulat dan tanpa prada emas. Bagian tengah dahinya disebut gajahan.
Unsurnya terdiri atas gajahan, pengapit, penitis, dan godheg. Citak boleh dipakai atau tidak, tergantung pilihan perias.
Aksesori depannya berupa sirkam setengah lingkaran yang diapit centung setengah lingkaran. Cundhuk mentul berjumlah tujuh atau sembilan dan menghadap ke depan.
Rangkaian melati juga ikut menandai gaya ini. Ada tibo dodo, yaitu melati persegi yang menjuntai ke dada kanan, dan pengasih, melati pendek di sisi kiri bawah yang tidak melewati leher.
Sanggul Solo tampak lebih lebar karena rambut depan di-tease sebelum disisir ke belakang.
Perbedaan Paes Jogja dan Solo
Perbedaan paling mudah terlihat ada pada bentuk dahi, penggunaan prada, dan aksesori kepala. Unsur dasarnya sama, yaitu penunggul atau gajahan, pengapit, penitis, dan godheg.
| Elemen | Paes Jogja | Paes Solo |
|---|---|---|
| Bentuk dahi | Runcing | Membulat |
| Prada atau pidih | Prada emas di tepi dan tengah, terutama pada paes ageng | Tanpa prada, dilukis dengan pidih (hitam untuk Putri, hijau untuk Basahan) |
| Alis | Alis menjangan ranggah | Menjangan ranggah boleh dipakai atau tidak |
| Citak | Dipakai | Boleh dipakai atau tidak |
| Jahitan mata | Ada, garis dari mata ke pelipis | Tidak ada, riasan mata lebih sederhana |
| Cundhuk mentul | Ganjil, maksimal lima, menghadap ke belakang | Tujuh atau sembilan, menghadap ke depan |
| Aksesori depan | Gunungan diapit centung berkaki melengkung | Sirkam setengah lingkaran diapit centung setengah lingkaran |
| Sanggul | Cepol, rambut depan tanpa di-tease | Lebih lebar, rambut depan di-tease |
| Busana khas | Paes Ageng dan dodot Kanigaran | Solo Basahan dengan dodotan |

Bentuk godheg memang ada di kedua gaya, tetapi penjelasannya berbeda antar sumber. Untuk detail bentuknya, lihat langsung contoh hasil rias dari perias pilihanmu.
Makna Filosofis Tiap Bagian Paes
Setiap bagian paes dimaknai sebagai doa untuk kehidupan rumah tangga. Tafsirnya bisa sedikit berbeda antar daerah dan perias.

Penunggul atau Gajahan
Ini lekukan terbesar di tengah dahi. Maknanya harapan agar derajat dan kehormatan perempuan terangkat setelah menikah.
Pengapit
Pengapit berada di kanan dan kiri penunggul. Ia diibaratkan pengendali yang menjaga penunggul tetap di tengah, supaya tujuan pernikahan tetap lurus meski ada rintangan.
Penitis
Penitis berada di samping pengapit, dengan ujung mengarah ke ujung hidung. Maknanya, segala hal dalam rumah tangga, termasuk keuangan, perlu tujuan yang jelas dan dijalankan efektif.
Godheg
Godheg ada di sisi telinga. Ia pengingat untuk introspeksi dan tidak tergesa mengambil keputusan, sekaligus doa agar pengantin dikaruniai keturunan.
Penelitian pada paes Solo Putri menafsirkannya sebagai doa keselamatan, keharmonisan, dan ketenangan rumah tangga.
Citak
Citak berbentuk belah ketupat atau berlian di dahi, dibuat dari daun sirih yang digunting lalu ditempel. Ia melambangkan mata Dewa Siwa sebagai dewa pengetahuan, dengan harapan istri cerdas, berilmu, dan berakhlak baik.
Cara Memilih Paes untuk Pernikahanmu
Pilih paes sesuai gaya adat yang dipakai keluarga, lalu rundingkan detailnya dengan perias. Beberapa langkah berikut membantu keputusannya lebih mantap.
- Tanyakan ke orang tua atau sesepuh, keluarga memakai gaya Jogja atau Solo.
- Pilih perias yang menguasai pakem gaya itu, dan minta contoh hasil rias dengan paes yang sama.
- Bicarakan modifikasi sejak awal, misalnya pidih atau eyeliner, dan memakai prada atau tidak.
- Untuk pengantin berhijab, bahas penataan kerudung lebih dulu supaya paes tetap terlihat.
- Cocokkan pilihan paes dengan busana dan susunan acara.
Paes hanya satu pos dalam anggaran. Gambaran lengkapnya ada di artikel biaya pernikahan adat Jawa.
Paes juga tampil bersama rangkaian acara lain, seperti temu manten dan hiasan kembar mayang.
Penutup
Paes Jawa punya dua gaya besar. Gaya Jogja ditandai dahi runcing dan prada emas, sedangkan gaya Solo membulat dengan pidih berwarna.
Pahami dulu arti, jenis, dan perbedaan paes Jogja dan Solo, lalu pilih yang sesuai adat keluargamu bersama perias.
Kalau sedang menyiapkan undangan untuk pernikahan adat Jawa, rencananikah.net menyediakan undangan pernikahan adat Jawa dalam bentuk digital.




